Minggu, 27 November 2011

Aspek hasil Belajar menurut Bloom


Berdasarkan  teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah antara lain kognitif, afektif, psikomotor. Perinciannya adalah sebagai berikut :
a.         Aspek Kognitif
Evaluasi aspek kognitif, mengukur pemahaman konsep yang terkait dengan percobaan yang dilakukan untuk aspek pengetahuan evaluasi dapat dilakukan melalui tes tertulis yang relevan dengan materi pokok tersebut.
Aspek kognitif dapat berupa pengetahuan dan keterampilan intelektual yang meliputi: pengamatan, pemahaman, aplikasi, analisis, dan evaluasi. Klasifikasi tujuan kognitif oleh Bloom (1956) domain kognitif terdiri atas enam bagian sebagai berikut:
1)      Ingatan/recall
Mengacu kepada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar.
2)      Pemahaman
Mengacu kepada kemampuan memahami makna materi. Aspek ini satu tingkat di atas pengetahuan dan merupakan tingkat berfikir yang rendah.
3)      Penerapan
Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan, prinsip. Penerapan merupakan tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi dari pada pemahaman.
4)      Analisis
Mengacu kepada kemampuan menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor penyebab dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya, sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis merupakan tingkat kemampuan berpikir yang lebih tinggi daripada aspek pemahaman maupun penerapan.
5)      Sintesis 
Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen, sehingga membentuk suatu pola struktur dan bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah laku yang kreatif. Sintesis merupakan kemampuan tingkat berfikir yang lebih tinggi daripada kemampuan sebelumnya.
6)      Evaluasi
Mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu. Evaluasi merupakan tingkat kemampuan berpikir yang tinggi.
b.      Aspek Afektif
Evaluasi aspek afektif berkaitan dengan perasaan, emosi, sikap, derajat penerimaan atau penolakan terhadap suatu objek. Evaluasi aspek afektif dalam hal ini digunakan untuk penilaian kecakapan hidup meliputi kesadaran diri, kecakapan berpikir rasional, kecakapan sosial, dan kecakapan akademis. Aspek ini belum ada patokan yang pasti dalam penilaiannya.
Klasifikasi tujuan afektif terbagi dalam lima kategori sebagai berikut:
1)      Penerimaan
Mengacu pada kesukarelaan dan kemampuanm emperhatikan dan memberikan respon terhadap stimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.
2)      Pemberian respon
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi tersangkut secara aktif, menjadi peserta, dan tertarik.
3)      Penilaian  
Mengacu pada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak, atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi ‘sikap’ dan ‘apresiasi’.
4)      Pengorganisasian
Mengacu kepada penyatuan nilai. Sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam falsafah hidup. 
5)      Karakterisasi
Mengacu pada karakter dan gaya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat berkembang dengan teratur sehingga, tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini bisa ada hubungannya dengan ketentuan pribadi, sosial, dan emosi siswa.
c.    Aspek Psikomotor
Pengukuran keberhasilan pada aspek psikomotor ditunjukkan pada keterampilan dalam merangkai alat keterampilan kerja dan ketelitian dalam mendapatkan hasil. Evaluasi dari aspek keterampilan yang dimiliki oleh siswa bertujuan untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai teknik praktikum. Aspek ini menitikberatkan pada unjuk kerja siswa.
Klasifikasi tujuan psikomotor terbagi dalam lima kategori sebagai berikut:
1)      Peniruan
Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberikan respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot syaraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.
2)      Manipulasi
Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.  
3)      Ketetapan
Memerlukan kecermatan, proporsi, dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respons-respons lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.
4)      Artikulasi
Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dengan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal diantara gerakan-gerakan yang berbeda.
5)      Pengalamiahan
Menuntut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.

Pengertian Hasil Belajar


Hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. (Dimyati dan Mudjiono dalam http://indramunawar. blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html,)
Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti.( http://indramunawar. blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html,)
Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku seseorang melalui proses belajar, sedangkan perubahan tersebut harus dapat digunakan untuk meningkatkan penampilan diri dalam kehidupan (Sudjana, 2000:102).
Pendapat dari Horward Kingsley ini menunjukkan hasil perubahan dari semua proses belajar. Hasil belajar ini akan melekat terus pada diri siswa karena sudah menjadi bagian dalam kehidupan siswa tersebut (http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html), 7 Februari 2010.
Menurut pendapat Winata Putra dan Rosita (1997; 191 ) tes hasil belajar adalah   salah satu alat ukur yang paling banyak digunakan  untuk menentukan keberhasilan seseorang dalam suatu proses belajar mengajar atau untuk menentukan keberhasilan suatu program pendidikan.(http://techonly13.wordpress.com/2010/07/03/belajar-dan-hasil-belajar/).
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. ( Menurut Indera dalam http://www.infogue.com/viewstory/2009/06/13/hasil_belajar_pengertian_dan_definisi_/?url=http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasilbelajar-pengertian-dan-definisi.html)
Hasil belajar menurut Dimyati dalam http://one.indoskripsi.com adalah hasil proses belajar di mana pelaku aktif dalam belajar adalah siswa dan pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru.
Hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang.(http://indramunawar. blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html)
Menurut Nana Sudjana ( 2005 : 3 ) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku siswa setelah melalui proses pembelajaran.
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan yang telah dilakukan berulang-ulang yang akan tersimpan dalam jangka waktu lama atau bahkan tidak akan hilang selama-lamanya karena hasil belajar turut serta dalam membentuk pribadi individu yang selalu ingin mencapai hasil yang lebih baik lagi sehingga akan merubah cara berpikir serta menghasilkan perilaku kerja yang lebih baik.

Ciri-ciri Belajar


Jika kita simpulkan pandangan definisi belajar, kita menemukan beberapa ciri umum kegiatan belajar sebagai berikut  :
Pertama, belajar menunjukkan sesuatu aktivitas pada dan seseorang yang disadari atau disengaja. Oleh sebab itu pemahaman kita pertama yang sangat penting adalah bahwa kegiatan belajar merupakan kegiatan yang disengaja atau direncanakan oleh pembelajar sendiri dalam bentuk aktivitas tertentu. Aktivitas ini menunjuk  pada keaktifan seseorang dalam melakukan semua kegiatan tertentu, baik pada aspek-aspek jasmaniah maupun aspek  mental yang memungkinkan terjadinya perubahan pada dirinya. Dengan demikian dapat dipahami bahwa suatu kegiatan belajar dikatakan semakin baik, bilamana intensitas keaktifan jasmaniah maupun mental seseorang semakin tinggi. Sebaliknya meskinpun mental rendah berarti kegiatan belajar tersebut tidak dilakukan secara intensif. Dari aspek ini kita memahami begitu banyak aktivitas seseorang yang merupakan cerminan dari  kegiatan belajar, walapun diri individu tersebut tidak secara nyata memahami bahwa dirinya melakukan kegiatan belajar.
            Kedua, belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya. Lingkungan dalam hal ini dapat berupa manusia atau obyek-obyek lain yang memungkinkan individu memperoleh pengalaman-pengalaman atau pengetahuan baru maupun sesuatu yang pernah diperoleh atau ditemukan sebelumnya akan tetapi menimbulkan perhatian kembali bagi individu tersebut sehingga memungkinkan terjadinya interaksi. Adanya interaksi individu dengan lingkungan ini mendorong seseorang untuk lebih intensif meningkatkan keaktifan jasmaniah maupun mentalnya guru lebih mendalami sesuatu yang menjadi perhatian. Sebagai contoh, ketika seseorang anak meperhatikan bagaimana seorang pemanjat tebing melakukan aktifitasnya. Semakin kuat interaksi individu tersebut dengan obyek (berupa kegiatan tersebut), maka akan semakin besar pula perhatian dan dorongan individu untuk memahami aktivitas yang dilakukan oleh seseorang  pemanjat tebing tersebut. Oleh sebab itu, di dalam proses pembelajaran bilamana guru berhasil menumbuhkan hubungan yang intensif dengan siswa dalam proses pembelajaran, maka akan terjadi interaksi yang semakin kokoh dan pada giliranya memungkinkan siswa semakin terdorong untuk memahami atau mengetahui lebih mendalam sesuatu yang dipelajari. Sebaliknya ketika interaksi indivisu dengan lingkungan semakin lemah, maka dorongan mental untuk mendalami sesuatu menjadi sumber belajar juga akan semakin lemah. Dalam keadaan ini akan semakin sulit bagi individu untuk mendapatkan dorongan guna memperoleh pengalaman atau pengetahuan yang diharapkan.
            Ketiga, hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku. Walaupun tidak semua perubahan tingkah laku merupakan hasil belajar, akan tetapi aktivitas belajar umumnya disertai perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku pada kebanyakan hal merupakan sesuatu perubahan yang dapat diamati (observable). Akan tetapi juga tidak selalu perubahan tingkah laku yang dimaksudkan sebagai hasil belajar tersebut dapat di amati. Perubahan-perubahan yang dapat diamati kebanyakan berkenaan dengan perubahan aspek-aspek  motorik, sebagai contoh setelah seorang siswa mengikuti dengan cermat pembahasan tetang cara-cara memasang peralatan elektronik pada sebuah perabot, untuk selanjutnya tanpa bimbingan dan arahan, siswa tersebut maupun melakukan dengan benar. Melalui penayanggan sebuah acara di televisi tetang

Pengertian Belajar


Menurut Fudyartanto (2002) dalam Baharudin dan Nur W (2007:13) menyatakan bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Di sini usaha untuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu.
  Morgan dkk (1986) dalam Baharudin dan Nur W (2007:14), belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman
Belajar suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengartian. ( H.C. Witherington dalam Aunurrahman 2009:35)
Para ahli secara umum mendefinisikan bahwa belajar sebagai suatu perubahan pada diri orang yang belajar karena pengalaman. Pendapat beberapa ahli tentang pengertian belajar sebagai berikut :
1.      Morris L. Biege
Belajar adalah perubahan yang menetap dalam kehidupan seseorang yang tidak diwariskan secara genetis. Perubahan itu terjadi pada pemahaman, perilaku, persepsi, motivasi atau campuran dan semua secara sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi-situasi tertentu.
2.      Marle J. Moskowitz dan Arhur R.Orgel
Belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil langsung dari pengalaman dan bukan akibat hubungan-hubungan dalam sistem syaraf yang dibawah sejak lahir. Perilaku dapat diramalkan bukan dari apa yang kita ketahui tentang sifat-sifat umum dari sistem syaraf seseorang, melainkan dari apa yang kita ketahui tentang pengalaman yang khusus dan unik dari orang tersebut.
3.     
6
 
James O.Whittaker
Belajar sebagai proses yang menimbulkan atau merubah perilaku melalui latihan atau pengalaman. Lebih jauh James O.Whittaker menyatakan bahwa  perubahan fisik, perubahan karena kematangan perubahan perilaku karena kelelahan, akibat sakit dan akibat obat tidak termasuk belajar.
4.      Aaron Quinn Sartain dkk
Belajar sebagai suatu perubahan perilaku sebagai hasil pengalaman. Perubahan akibat dari cara merespon suatu sinyal, cara menguasai suatu keterampilan dan mengembangkan sikap terhadap suatu objek.
5.      W.S Winkel
Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasikan perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap.
M. Sobry Sutikno mengemukakan, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.( http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dan-definisi.html.)
Belajar menurut Abdilah   (2002) dalam  Aunurrahman (2009:35), adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan Belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan sebagai pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan untuk mencapai tujuan tertentu.