Kamis, 03 Mei 2012

Keterampilan Membaca Nyaring


1.      Hakikat Keterampilan Membaca Nyaring
a.       Pengertian Keterampilan
Keterampilan berasal dari kata “terampil” yang berarti cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. “Keterampilan berarti kecakapan untuk menyelesaikan tugas” (Depdiknas, 2007: 935). Oemar Hamalik (2009: 139) menyatakan bahwa “Keterampilan adalah serangkaian gerakan, tiap ikatan (link) unit stimulus-respons berperan sebagai stimulus terhadap ikatan berikutnya”.
Muhibbin Syah (2005: 119) mengemukakan bahwa ”Keterampilan adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah. Sedangkan Reber dalam Muhibbin Syah (2005:119) berpendapat bahwa ‘Keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu. Keterampilan bukan hanya meliputi gerakan motorik melainkan juga pengejawantahan fungsi mental yang bersifat kognitif’.
5
 
 Sedangkan ST Vebrianto dalam Fitria Wulandari (2006: 26) mengatakan ‘Keterampilan dapat mempunyai arti luas dan arti sempit. Keterampilan dalam arti sempit adalah kemudahan, kecepatan, dan ketepatan dalam tingkah laku motorik yang juga disebut manual skill. Dalam arti luas keterampilan mencakup manual skill, intelektual skill, social skill’. Sedangkan Fitria Wulandari (2006: 27) mengemukakan “Keterampilan adalah keahlian khusus untuk mengerjakan usaha tertentu sebagai manifestasi dari pengalaman, pengetahuan yang dapat diasosiasikan dalam bentuk karya”.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan adalah kecakapan, kemampuan, dan keahlian seseorang dalam melakukan suatu tindakan untuk dapat menyelesaikan tugas yang diberikan baik dalam pemikiran dan tingkah laku.
b.      Pengertian Membaca
Dalam Depdiknas, kamus besar bahasa Indonesia (2007:83) mengartikan “Membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati), mengeja/melafalkan apa yang tertulis, mengucapkan, mengetahui, meramalkan dan memperhitungkan serta memahami”. Sedangkan Nurhadi (1995: 340) menyatakan bahwa “Membaca adalah suatu interpretasi simbol-simbol tertulis atau membaca adalah menangkap makna dari rangkaian huruf tertentu”.
Tutik Setiowati (2007: 12) mengemukakan bahwa “Membaca adalah suatu aktivitas yang melibatkan penglihatan, ingatan, kecerdasan, dan pemahaman untuk memperoleh informasi yang disampaikan penulis melalui lambang-lambang” (www.digilib.unnes.ac.id).
Menurut Hodgon dalam Henry Guntur Tarigan (1994: 7) Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan , yang hendak disampaikan  oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Suatu proses yang menuntun agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam suatu pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, maka pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu tidak  terlaksana dengan baik.
Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding process), berlainan dengan berbicara dan menulis yang  justru melibatkan penyandian (encoding). Sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis (written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning) yang mencakup pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna (Anderson  dalam Henry Guntur Tarigan 1994: 7).
Sri Utari Subyakto-Nababan (1993:164) menyatakan bahwa “membaca adalah suatu aktivitas yang rumit dan kompleks karena bergantung kepada keterampilan berbahasa pelajar dan pada tingkat penalarannya”.
Membaca merupakan suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup atau melibatkan seragkaian keterampilan-keterampilan yang lebih kecil. Dengan kata lain membaca mencakup tiga komponen, yaitu: (1) Pengenalan terhadap aksara atau tanda-tanda baca, (2) Korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dengan unsur-unsur linguistik yang formal, (3) Hubungan lebih lanjut dari A dan B dengan makna atau meaning (Broughton dalam Henry Guntur Tarigan  1994: 10).
 “Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis, yang reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca, seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman baru” (St. Y. Slamet, 2007:58). Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya dan memperluas wawasan.
Berpijak pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca adalah suatu proses memperoleh informasi yang disampaikan penulis dengan melafalkan dan memahami isi dari apa yang tertulis.
c.       Jenis-jenis membaca
Membaca memiliki beberapa jenis dengan dikelompokkan dari berbagai segi, diantaranya yaitu dari segi tataran atau jenjangnya, dari segi pelaksanaannya dan dari segi pengajarannya serta dari segi terdengar atau tidaknya suara.
Dari segi tataran atau jenjangnya, membaca dikelompokkan menjadi dua, yakni membaca permulaan dan membaca lanjut. Membaca permulaan yaitu mampu melafalkan huruf dengan benar dan memperoleh informasi. Sedangkan membaca lanjut adalah keterampilan membaca yang baru dapat dilakukan apabila pembaca telah dapat membaca teknik/membaca permulaan (Depdiknas, 2003:47). Pembelajaran membaca permulaan dilaksanakan pada kelas awal sekolah dasar yaitu kelas I dan II, sedangkan membaca lanjut dilaksanakan tingkat berikutnya yaitu kelas III-VI.
Dari segi pelaksanaannya, membaca dibagi atas: 1) Membaca Nyaring (Membaca Pelafalan atau Loud Reading): Membaca nyaring atau membaca pelafalan diucapkan dengan suara lantang dengan intonasi dan jeda yang tepat, sangat memperhatikan tanda baca, dilaksanakan dengan lancar, mudah ditangkap oleh audiens atau penyimak. Membaca pelafalan mempunyai fungsi sosial yang tinggi, karena ketika kita melaksanakan kegiatan ini para pendengar juga bisa mendapatkan butiran-butiran informasi, ide dan ilmu pengetahuan disamping diri kita. Pada saat Nurcholis Majid dan Darmanto Jatman, S. U. membacakan makalah seminar, Rendra dan Cak Nun membacakan puisi, Atika Suri dan Ade Novita membaca berita, maka sekian ratus ribu orang bisa mengambil manfaat dari pembacaan berita tersebut.
Membaca nyaring atau membaca bersuara terdiri atas:  membaca teknik dan membaca estetik. Keduanya mementingkan: a) Kelancaran dan kebenaran pengucapan kata, b) Suara yang jelas dan fasih sehingga pesan-pesan naskah mudah ditangkap audiens, c)  Intonasi (kuat lemahnya tekanan, tinggi rendahnya nada, cepat lambatnya tempo) dan penjedaan secara tepat, d) Pemahaman makna dan penghayatan nuansa naskah, serta e) Penyampaian yang hidup dan komunikatif. 2) Membaca dalam Hati (Membaca Sunyi atau Silent Reading): Membaca dalam hati (membaca tanpa suara) cukup dalam batin saja, mata atau pandangan kita menyusuri untaian kata dari kiri ke kanan (untuk huruf latin, huruf arab sebaliknya), dari atas ke bawah, tanpa mulut berkomat kamit. Membaca sunyi bersifat personal, karena manfaat langsungnya hanya bisa dinikmati dan direguk oleh sang pembaca.
Membaca dalam hati dibagi menjadi: a) Membaca intensif: Membaca intensif menitik beratkan pada kualitas pembacaan berupa intensitas pemahaman naskah, pemahaman yang mendalam dan mendetail sampai ke relung-relungnya. Membaca intensif dimulai dengan previuw, diakhiri dengan self resitasi yakni penjajakan kemampuan diri sendiri memahami naskah. Self resitasi dilaksanakan dengan melontarkan pertanyaan bacaan pada diri sendiri untuk kita jawab sendiri. Semakin banyak soal yang bisa dijawab secara benar dan akurat, semakin baik. b) Membaca Ekstensif: Membaca ekstensif menitik beratkan pada kuantitas, pada jumlah buku dan naskah yang kita baca dan keanekaragamannya. Di samping secara intensif membaca buku-buku bahasa, sastra, pendidikan dan kesenian, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP juga perlu membaca ekstensif buku-buku filsafat, agama, sosial politik, budaya, psikologi, kesehatan popular, lingkunga hidup, dan lain-lain, untuk memperluas wawasan, mempertajam penalaran dan kepekaan sosial. Semakin banyak jumlah buku yang kita baca semakin baik. c) Membaca Kritis: Membaca kritis mensyaratkan kecermatan merespon dan ketajaman analisis terhadap materi ilmiah yang kita baca. Di sini dikembangkan keluasan dan keterbukaan hati menghadapi fenomena ilmiah serta keberanian melontarkan pendapat dan penilaian terhadap naskah. Dalam membaca kritis kita dituntut untuk bisa merespon, mengevaluasi, mengkritik serta objektif teks yang dibaca. d) Membaca Kreatif: Membaca kreatif adalah aktivitas naskah dengan bahan-bahan yang bersifat inspiratif, yang setelah melaksanakan kegiatan tersebut, membuat tergugah untuk kreatif, untuk berdaya cipta. Bahan yang bersifat inspiratif adalah bacaan yang serasa mengilhami penulisan, mendorong untuk lebih aktif dalam berkarya. Usai membaca karya-karya Kahlil Gibran, Muhammad Iqbal, Ronggowarsito, Rendra, Putu Wijaya, Emha Ainun Najib, Seno Gumira Ajidarma, Iwan Simatupang, Budi Darma, N. Riantiarno, maka akan timbul minat untuk lebih giat menulis puisi, cerpen, novel, naskah drama.e) Membaca Cepat: Membaca cepat dilaksanakan dengan menggunakan jumlah buku dan bacaan yang cukup banyak, dalam waktu yang singkat dengan pemahaman yang tepat. Cara pembacaan dilakukan dari atas ke bawah, dengan kecepatan 300-350-400 kata per menit, syukur lebih. f) Membaca Apresiatif: Membaca apresiatif mementingkan penghayatan, kemampuan merasakan keindahan naskah, bisa menghargai keberadaan ide-ide dalam teks. Perbedaannya dengan membaca estetik yang harus dilafalkan dengan suara lantang, membaca apresiatif dilaksanakan didalam hati. g) Membaca Teknik: Membaca teknik mengemban tujuan informatif dan ilmiah, meningkatkan intelektualitas penyimak dengan menggunakan berita, reportase, naskah pidato, makalah, esai atau artikel sebagai objek kajian. Membaca estetis mengusung tujuan apresiatif, menanamkan apresiasi sastra, penghayatan nilai-nilai estetis dan spiritualitas. Pembaca berusaha menghidupkan naskah di depan audiens, sehinggga penyimak bisa menikmati keindahan dan memahami kedalaman makna karya sastra. Dalam membaca estetis kita gunakan puisi, cerpen, fragmen, novel, penggal drama, terjemahan kitab suci, naskah-naskah renungan filosofi sebagai bahan-bahan untuk beraktivitas.
Membaca teknik mementingkan kebenaran pelafalan serta meningkatkan tingkat pemahaman pembaca terhadap materi-materi ilmiah, sedangkan membaca estetis berorientasi pada tersemai suburnya ketajaman perasaan menikmati keindahan karya sastra. Membaca estetis sering dipraktikkan dalam lomba poetry reading (pembacaan puisi), pembacaan cerpen, naskah drama dan terjemahan kitab suci (Aninditya Sri Nugraheni, 2008: 57-60).
Dari segi pengajarannya, membaca dibagi menjadi: 1) Membaca Permulaan: Membaca permulaan disajikan kepada siswa tingkat-tingkat permulaan Sekolah Dasar. Tujuannya adalah membinakan dasar mekanisme membaca, seperti kemampuan mengasosiasikan huruf dengan bunyi-bunyi bahasa yang diwakilinya, membina gerakan mata membaca dari kiri ke kanan, membaca kata-kata dengan kalimat sederhana. 2) Membaca Nyaring: Membaca nyaring di satu pihak dianggap merupakan bagian atau lanjutan dari membaca permulaan, dan di pihak lain dipandang juga sebagai membaca tersendiri yang sudah tergolong tingkat lanjut, seperti membaca sebuah kutipan. 3) Membaca dalam Hati: Membina siswa agar mereka mampu membaca tanpa suara dan memahami isi tuturan tertulis yang dibacanya, baik isi pokoknya maupun isi bagiannya. Termasuk pula isi yang tersurat dan yang tersirat. 4) Membaca Pemahaman: Dalam praktiknya, pengajaran membaca pemahaman hampir tidak berbeda dengan pengajaran membaca dalam hati. 5) Membaca Bahasa: Pengajaran membaca ini pada dasarnya merupakan alat dari pengajaran bahasa. Guru memanfaatkannya untuk membina kemampuan bahasa siswa. 6) Membaca Teknik: Pengajaran membaca teknik memusatkan perhatiannya kepada pembinaan-pembinaan kemampuan siswa menguasai teknik-teknik membaca yang dipandang patut. Dalam pelaksanaannya pengajaran membaca teknik sering kali berimpit dengan pengajaran membaca nyaring, dan dengan pengajaran membaca permulaan. Di pihak lain, pengajaran membaca ini banyak pula terlibat cara-cara membaca suatu tuturan tertulis yang tergolong rumit (I Gusti Ngurah Oka dalam Solchan T. W., dkk, 2009: 8.5).
Dari segi terdengar atau tidaknya suara, membaca dapat dibagi atas: 1) Membaca nyaring, membaca bersuara, membaca lisan (reading out loud, oral reading, reading aloud); 2) Membaca dalam hati (silent reading): Pada membaca dalam hati, kita hanya mempergunakan ingatan visual (visual memory). Dan dalam hal ini yang aktif adalah mata (pandangan; penglihatan) dan ingatan. Sedangkan pada membaca nyaring, selain penglihatan dan ingatan, juga turut aktif auditory memory (ingatan pendengaran) dan motor memory (ingatan yang tersangkut paut dengan otot-otot kita) (Moulton dalam Henry Guntur Tarigan 1994: 22).
Berpijak pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis membaca terdiri dari: 1) Membaca permulaan, 2) Membaca nyaring, 3) Membaca dalam hati, 4) Membaca pemahaman, 5) Membaca teknik.
d.      Tujuan Membaca
Menurut Solchan T. W., dkk (2009:8.6) menyatakan tujuan membaca di sekolah dasar kelas rendah adalah untuk membina kemampuan siswa dalam hal-hal berikut ini: (1) Mekanisme membaca, yaitu mengasosiakan huruf dengan bunyi-bunyi bahasa yang diwakilinya (yang dilatih adalah membaca teknik dan nyaring), (2) Membina gerak mata membaca dari kiri ke kanan, (3) Membaca kata-kata dan kalimat-kalimat pendek.
Henry Guntur Tarigan (1994: 9) menyatakan tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Sejalan dengan hal itu, Anderson dalam Henry Guntur Tarigan (1994: 9-10) ada beberapa tujuan membaca yang penting, yaitu: 1) Membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan yang telah dilakukan oleh sang tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh sang tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk memecahkan masalah-masalah yang telah dibuat oleh sang tokoh. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details of facts), 2) Membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa-apa yang dipelajari atau yang dialami sang tokoh, dan merangkum hal-hal yang dilakukan oleh sang tokoh untuk mencapai tujuannya. Membaca seperti ini disebut membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas), 3) Membaca untuk menemukan atau mengetahui apa yang terjadi pada setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan ketiga/seterusnya. Setiap tahap dibuat untuk memecahkan suatu masalah, adegan-adegan dan kejadian, kejadian buat dramatisasi . Hal ini disebut membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization), 4) Membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan oleh sang pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah, kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka berhasil atau gagal. Ini disebut membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading to inference), 5) Membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak biasa, tidak wajar mengenai seorang tokoh, apa yang lucu dalam cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar. Ini disebut membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify), 6) Membaca untuk menemukan apakah sang tokoh berhasil atau hidup dengan ukuran tertentu. Apakah kita ingin berbuat seperti yang diperbuat oleh sang tokoh, atau bekerja seperti cara sang tokoh bekerja dalam cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi (reading to evaluate). 7) Membaca untuk menemukan bagaimana caranya sang tokoh berubah, bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal, bagaimana dua cerita mempunyai persamaaan, bagaimana sang tokoh menyerupai pembaca. Ini disebut membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).
e.       Manfaat Membaca
Suyatmi dalam Dini Anugraheni (2006: 18) mengemukakan bahwa ada beberapa manfaat membaca, yaitu: 1) Kita dapat menemukan sejumlah informasi dan pengetahuan yang berharga dalam praktek kehidupan sehari-hari. 2) Kita dapat berkomunikasi dengan pemikiran, pesan, dan kesan pemikir-pemikir kenamaan dari segala penjuru dunia lebih dari segi waktu dan ruang. 3) Kita dapat mengetahui peristiwa besar dalam sejarah, peradapan, dan kebudayaan suatu bangsa. 4) Kita dapat mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir dunia. 5) Kita dapat mengayakan batin, meluaskan cakrawala kehidupan dan dapat meningkatkan taraf hidup dan budaya keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa. 6) Kita dapat memecahkan berbagai masalah kehidupan yang dapat mengantarkan seseorang menjadi cerdik dan pandai. 7) Kita dapat mengisi waktu luang dengan kesibukan yang bermanfaat.
f.       Pengertian Membaca Nyaring
Henry Guntur Tarigan (1994: 22) berpendapat bahwa “Membaca nyaring adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid, ataupun pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran dan perasaan seseorang pengarang”.
Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan menyuarakan tulisan yang dibacanya dengan ucapan dan intonasi yang tepat agar pendengar dan pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik yang berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis (Liliana Muliastuti dan Euis Sulastri, 2009: 9 dalam www.saujana.sg).
Tutik Setiowati (2007: 15) menyatakan bahwa membaca “Membaca nyaring adalah cara membaca dengan bersuara, yang perlu diperhatikan adalah pelafalan vokal maupun konsonan, nada atau lagu ucapan, penguasaan tanda-tanda baca, pengelompokan kata atau frase ke dalam satuan-satuan ide, kecepatan mata, dan ekspresi” (www.digilib.unnes.ac.id).
Membaca nyaring yang baik menuntut agar si pembaca memiliki kecepatan mata yang tinggi serta pandangan mata yang jauh, karena dia haruslah melihat pada bahan bacaan untuk memelihara kontak mata dengan para pendengar. Pembaca juga harus mengelompokkan kata-kata dengan baik dan tepat agar jelas maknanya bagi para pendengar. Pendek kata, pembaca harus mempergunakan segala keterampilan yang telah dipelajari nya pada membaca dalam hati sebagai tambahan bagi keterampilan lisan untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan pada orang lain.
Membaca nyaring adalah sebuah pendekatan yang dapat memuaskan serta memenuhi berbagai ragam tujuan serta mengembangkan sejumlah keterampilan serta minat. Oleh karena itu,  dalam mengajarkan keterampilan-keterampilan membaca nyaring sang guru harus memahami proses komunikasi dua arah . Lingkaran komunikasi belumlah lengkap kalau pendengar belum memberi tanggapan secukupnya terhadap pikiran atau perasaan yang diekspresikan oleh si pembaca. Tanggapan tersebut mungkin hanya dalam hati, tetapi bersifat apresiatif, mempunyai nilai apresiasi yang tinggi (Dawson dalam Henry Guntur Tarigan 1994: 23).
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca nyaring adalah suatu kegiatan menyuarakan kalimat-kalimat dalam bacaan dengan intonasi dan lafal yang tepat serta dapat memperoleh pesan/informasi dari bacaan.
g.      Keterampilan Membaca Nyaring
Membaca nyaring merupakan keterampilan yang serba rumit, kompleks, banyak seluk beluknya. Pertama-tama menuntut pengertian aksara di atas halaman kertas dan sebagainya dan kemudian memproduksikan suara yang tepat dan bermakna. Jangan kita lupakan bahwa membaca nyaring itu pada hakikatnya merupakan suatu masalah lisan atau oral matter.  Oleh karena itu, maka khusus dalam pengajaran bahasa asing, aktivitas membaca nyaring lebih dekat atau lebih ditujukan pada ucapan (pronounciation) daripada ke pemahaman (comprehension). Mengingat hal tersebut maka bahan bacaan haruslah dipilih yang mengandung isi dan bahasa yang relatif mudah dipahami (Broughton dalam Henry Guntur Tarigan 1994: 23).
Membaca nyaring merupakan suatu aktivitas yang menuntut aneka ragam keterampilan. Keterampilan-keterampilan tersebut telah dilatih sejak tingkat dasar pendidikan agar pada tingkat sekolah lanjutan siswa telah mempunyai modal yang sangat penting. Keterampilan-keterampilan pokok telah ditanam di sekolah dasar, pemupukan serta pengembangan dilakukan disekolah lanjutan (pertama dan atas). Keterampilan-keterampilan yang dituntut pada pembelajaran membaca nyaring kelas II adalah (1) Membaca dengan terang dan jelas; (2) Membaca dengan penuh perasaan, ekspresi; (3) Membaca tanpa tertegun-tegun, tanpa terbata-bata.
Keterampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah: (1) Menggunakan ucapan yang tepat, (2) menggunakan frase yang tepat, (3) Menggunakan intonasi suara yang wajar, (4) Dalam posisi sikap yang baik, (5) Menguasai tanda-tanda baca, (6) Membaca dengan terang dan jelas, (7)  Membaca dengan penuh perasaan, ekspresif, (8) membaca dengan tidak terbata-bata, (9) Mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya, (10) Kecepatan tergantung dari bahan bacaan yang dibacanya, (11) Membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan, (12) Membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri (Liliana Muliastuti dan Euis Sulastri, 2009: 9 dalam www.saujana.sg).
Bertolak pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan membaca nyaring adalah berbagai kecakapan berbahasa dalam melisankan atau menyuarakan kalimat dalam bacaan dengan intonasi dan jeda yang tepat agar mudah kepada pembaca dan pendengar menangkap pesan/informasi bacaan.

4 komentar:

  1. pak,,,tulisan bapak bagus sekali, tp saya butuh daftar pustaka dr tulisan bapak tersebut. apa saya boleh minta daftar pustakany?? karna d blog ini belum dcantumkan

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. kalau di lihat dari
    https://nurfitriyanielfima.wordpress.com/2013/10/07/belajar-hasil-belajar/
    mengarah ke ini
    http://www.tokobukupenelitian.com/2013/05/psikologi-belajar-pengarang-muhibbin.html

    BalasHapus