Kamis, 03 Mei 2012

Hakikat Media Cerita Bergambar


1.      Hakikat Media Cerita Bergambar
a.       Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media pembelajaran dapat diartikan sebagai sesuatu yang mengantarkan pesan pembelajaran antara pemberi pesan kepada penerima pesan.
Ada beberapa pengertian tentang media secara khusus, yaitu:
1)      AECT (Association for Education and Communication and Technologi) dalam Sri Anitah ( 2009:4) mendefinisikan ‘media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk menyalurkan informasi’.
2)      Menurut Briggs dalam Sri Anitah (2009:4) menyatakan bahwa ‘media pada hakikatnya adalah peralatan fisik untuk membawakan atau menyempurnakan isi pembelajaran’.
3)      Gerlach dan Ely dalam Azhar Arsyad (2005:3) berpendapat bahwa ‘media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap’.
4)      Azhar Arsyad (2005:3) mengemukakan pengertian “media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal”.
5)      Arif S. Sadiman, dkk (2007: 7) mengungkapkan pengertian media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
6)      Menurut Sri Anitah (2009:5) “Media adalah setiap orang, bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pembelajar untuk menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap”.
Bertolak pada beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat yang digunakan untuk memperjelas pembelajaran yang disampaikan kepada siswa dan membantu siswa untuk dapat menangkap pesan pembelajaran dengan baik.
b.      Jenis-jenis Media
Menurut Hujair AH. Sanaky (2009: 40) menyatakan bahwa media pembelajaran diidentifikasi dalam berbagai jenis yaitu dilihat dari sisi aspek bentuk fisik dan sisi aspek panca indera. Pembagian jenis  media pembelajaran sebagai berikut: 1) Media Pembelajaran dilihat dari sisi aspek bentuk fisik, dengan membagi jenis sebagai berikut: a) Media elektronik, seperti televisi, film, radio, slide, video, VCD, DVD, LCD, komputer, Internet, dan lain-lain. b) Media non elektronik, seperti buku, handout, modul, diktat, media grafis dan alat peraga. 2) Ada yang melihat dari aspek panca indera dengan membagi menjadi tiga yaitu: a) Media audio (dengar), b) Media visual (melihat), termasuk media grafis, c) Media audio-visual (dengar-melihat). 3) Ada yang melihat dari aspek alat dan bahan yang digunakan, yaitu: a) Alat perangkat keras (hardware) sebagai sarana yang menampilkan pesan, dan b) Perangkat lunak (software), sebagai pesan atau informasi.
Menurut Sulaiman dalam Alfiah dan Yunarko B. S. (2009: 17) mengklasifikasikan gambar ke dalam alat-alat yang dapat diperlihatkan rupa dan bentuk. Alat ini akan terbagi menjadi visual dua dimensi, ada dua yaitu bidang transparan dan bidang tidak transparan. Gambar termasuk pada alat visual dua dimensi pada bidang tidak transparan.
Menurut Suparno dalam Alfiah dan Yunarko B. S. (2009:18), gambar termasuk media pandang non proyeksi. Gambar-gambar yang termasuk dalam klasifikasi media pandang non proyeksi ini antara lain sebagai berikut; a) Gambar Seri (flow chart) adalah media yang terbuat dari kertas manila besar dan lebar yang berisi beberapa buah gambar. Gambar-gambar satu dengan yang lain saling berhubungan sehingga merupakan rangkaian cerita. Media ini sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran keterampilan ekspresi lisan, b) Cerita Gambar (wall chart) adalah media gambar, bagan, atau skema yang biasanya digantungkan pada dinding. Media ini dapat digunakan untuk melatih penguasaan kosakata dan penyusunan kalimat. Salah satu jenis wall chart ini adalah cerita gambar, c) Flash Chart (stick figure) adalah gambar-gambar yang berupa garis-garis sederhana, tetapi sudah menggambarkan pesan yang jelas. Gambar tersebut tidak boleh disertai tulisan apa pun. Media ini cocok untuk melatih keterampilan dengan menggunakan pola kalimat tertentu. d) Kartu Gambar adalah media yang terbuat dari kartu-kartu kecil. Media ini berfungsi untuk melatih keterampilan membaca permulaan. Setiap kartu berisikan gambar yang diperoleh dengan jalan menempelkan guntingan gambar dan majalah atau tempat lain.
Berpijak pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa cerita bergambar (wall chart) termasuk ke dalam jenis media gambar yaitu media pandang non proyeksi dan media visual dua dimensi pada bidang tidak transparan.
c.       Fungsi Media
Menurut Levie & Lentz dalam Azhar Arsyad (2005: 16-17) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu: fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris. 1) Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran, 2) Fungsi afektif  media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, 3) Fungsi kognitif  media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar, 4) Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.
Media berfungsi untuk tujuan intruksi dimana informasi yang terdapat dalam media itu harus melibatkan siswa baik dalam benak maupun mental maupun dalam bentuk aktivitas yang nyata sehingga pembelajaran dapat terjadi. Oleh karena itu, guru harus mampu merancang secara lebih sistematis dan psikologis pembelajaran yang akan dilakukan dengan menggunakan media, sehingga peran masing-masing antara guru dengan media pembelajaran dapat terlaksana dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif, efisien dan menyenangkan.
Menurut Azhar Arsyad (2005:15) menyatakan bahwa fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Berdasarkan  pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi media yaitu sebagai alat bantu pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses pembelajaran yang berperan untuk membantu mempermudah penangkapan dan pemahaman siswa terhadap isi pelajaran.
d.      Manfaat Media
Sedangkan menurut Sudjana dan Rivai dalam Azhar Arsyad (2005:24) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu: 1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar; 2) Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga akan lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran; 3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran; 4) Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.
Menurut Azhar Arsyad (2005: 26-27) menyatakan bahwa ada beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut: 1) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar; 2) Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan kemungkinan siswa untuk belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya; 3) Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu; a) Objek atau benda yang terlalu besar untuk ditampilkan langsung di ruang kelas dapat diganti dengan gambar, foto, slide, realita, film, radio, atau model; b) Objek atau benda yang terlalu kecil yang tidak tampak oleh indera dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, slide, atau gambar; c) Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video, film, foto, slide disamping secara verbal; d) Objek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilkan secara konkret melalui film, gambar, slide, atau simulasi komputer; e) Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dengan media seperti komputer, film, dan video; f) Peristiwa alam seperti terjadinya letusan gunung berapi atau proses yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses kepompong menjadi kupu-kupu dapat disajikan dengan teknik-teknik rekaman seperti time-lapse untuk film, video, slide, atau simulasi komputer. 4) Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karya wisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang.
Dari pendapat di atas, jelaslah bahwa media pembelajaran digunakan untuk membantu guru untuk dapat menyampaikan informasi atau isi pesan dalam pembelajaran secara jelas, menarik, dan bervariasi sehingga dapat menjadi sarana untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran dan dapat meningkatkan proses serta hasil belajar.
e.       Media Cerita bergambar
Media cerita bergambar merupakan rangkaian kegiatan/cerita yang disajikan secara berurutan kemudian siswa dilatih mengungkapkan adegan dan kegiatan tersebut yang apabila dirangkaikan akan menjadi suatu cerita. Gambar dalam cerita akan lebih menarik lagi jika didasarkan khususnya pada kegiatan kehidupan siswa.
Menurut Andre Rinanto dalam Trining Agustin (2007: 10) memberi batasan pengertian media cerita bergambar adalah “Salah satu jenis bahasa yang memungkinkan terjadinya komunikasi, media cerita bergambar merupakan jenis bahasa yang diekspresikan lewat tanda dan simbol”.
Media cerita bergambar merupakan salah satu media yang tepat yang dapat digunakan untuk menstimulus kemauan dan kemampuan membaca nyaring pada siswa. Media cerita bergambar dalam penelitian ini adalah rangkaian kegiatan atau cerita pada gambar yang disertai kalimat sederhana dengan penyajian secara berurutan.
f.       Manfaat Media Cerita Bergambar
Media cerita bergambar termasuk ke dalam jenis media gambar, sehingga memiliki manfaat sama seperti media gambar pada proses pembelajaran. Hamalik dalam Alfiah dan Yunarko B. S. (2009: 19) menyatakan bahwa gambar memiliki sejumlah manfaat. Manfaat tersebut antara lain, (1) dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu masalah karena itu bernilai terhadap semua pelajaran di sekolah. (2) Bernilai ekonomis, mudah didapatkan dan murah, dan (3) mudah digunakan, baik perseorangan maupun kelompok, satu gambar dapat digunakan oleh siswa dalam satu kelas.
Sulistyowati (2006: 22) berpendapat bahwa manfaat yang diperoleh dalam proses belajar membaca dengan menggunakan media cerita bergambar yaitu anak dapat memahami isi gambar sehingga anak dapat lebih termotivasi dan lebih tertarik untuk membaca dan mengetahui isi cerita bergambar.
Bertolak pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa manfaat penggunaan media cerita bergambar adalah dapat memperjelas penguasaan dan pemahaman siswa mengenai pesan bacaan dan cara membaca yang baik  serta dapat menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar.
g.      Teknik Penggunaan Media Cerita Bergambar
Amir Hamzah Sulaiman dalam Trining Agustin (2007: 10) menyatakan bahwa ‘Untuk dapat menggunakan media cerita bergambar secara efektif, peneliti harus mempunyai tujuan yang jelas atas dasar penggunaannya’. Dalam proses belajar mengajar di sekolah dasar, media cerita bergambar digunakan dengan cara menunjukkan gambar dan siswa diajak memaparkan isi kejadian pada gambar. Setelah itu, siswa diajak mengenal suku kata, kata, dan kalimat sederhana pada teks cerita yang tersedia.
Media cerita bergambar dalam meningkatkan keterampilan membaca nyaring pada kelas awal disarankan dibuat secara berseri sesuai dengan kalimat cerita yang dibuat secara berurutan, artinya media yang berupa gambar yang disertai kalimat tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain sehingga menjadi suatu rangkaian cerita. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan karakteristik anak  yang mudah bosan dan kurang tertarik jika hanya dihadapkan dengan kata-kata dalam beberapa kalimat.
Dalam proses belajar mengajar, media cerita bergambar diletakkan di depan kelas bagian tengah dengan tampilan jelas, agar terlihat oleh semua siswa. Oleh karena itu, media ini dibantu dengan gantungan untuk dapat menggantungkan serangkaian cerita bergambar. Untuk lebih jelas mengenai bentuk media cerita bergambar dapat dilihat pada lampiran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar