Minggu, 27 November 2011

Pengertian Kontekstual


b.      Pengertian Kontekstual
Menurut Blanchard (2001) dalam Triyanto (2007) menyatakan bahwa pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotifasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan tenaga.
(University of washington (2001) dalam Triyanto (2007), Pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa-siswa TK sampai dengan SMU untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia nyata atau masalah masalah yang disimulasikan

Menurut Blanchard (2001) dalam Triyanto (2007) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman yang sesungguhnya.
Menurut Triyanto (2007:105), Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)

Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari

c.        Strategi Pendekatan Kontekstual
Menurut Triyanto (2007:105-115), Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
Adapun penjelasan tiap-tiap komponen tersebut di atas diantaranya sebagai berikut :
1)            Konstruktivisme (contruktivism)
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir atau filosofi pendekatan kontekstual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta. Konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksikan pengetahuan itu dan member makna melalui pengetahuan nyata.
Dengan demikian siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan  ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan  kepada siswa. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak siswa sendiri. Esensi dan teori ini bahwa siswa harus menemukan dan  mentranformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan bila perlu informasi itu menjadi milik sendiri. Oleh karena itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan.
Dalam pandangan konstruktivisme “strategi memperoleh” lebih diutamakan dari pada seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Pendekatan untuk memperoleh pengetahuan itu dapat dilakukan melalui dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi artinya struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan hasil pengalaman baru.
2)             Menemukan (Inquiri)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran barbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Untuk itu guru harus merancang kegiatan menemukan apapun materi pembelajaran.
Untuk merancang pembelajaran yang merujuk pada kegiatan menemukan ini, ada empat langkah yang dapat diikuti antara lain: 1) merumuskan masalah, 2) mengamati dan mengobservasi, 3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya, dan 4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya para pembaca, teman sekelas, guru kelas audien lainnya.
3)           Bertanya (Questioning)
Questioning atau bertanya merupakan strategi utama utama dalam pendekatan kontekstual. Bertanya dalam kegiatan pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bertanya dalam kegiatan pembelajaran bermanfaat untuk : 1) menggali informasi, 2) mengecek pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon pada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, 8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
4)         Masyarakat belajar ( learning community )
Konsep learning community atau masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Dengan demikian, hasil belajar diperoleh dari “sharing” antar teman, antar kelompok,  antara yang tahu dan yang belum tahu baik diruang kelas, juga dengan orang yang ada diluar kelas, maupun yang menjadi anggota masyarakat belajar. Untuk itu, pembelajaran selalu disarankan dalam kelompok- kelompok belajar yang anggotanya bersifat heterogen sehingga yang pandai dapat membimbing yang lemah, yang tahu dapat membimbing yang belum tahu, yang cepat menangkap dan mendorong yang lambat, yang mempunyai gagasan dapat memberi usulan pendapat, dan seterusnya. Jadi learning community ini dapat terwujud apabila dalam pembelajaran itu terjadi proses komunikasi dua arah. Sehingga dalam pembelajaran itu tidak ada pihak yang di mana dalam komunikasi, dan tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak saling mendengarkan.
5)           Permodelan
Yang dimaksud permodelan dalam pembelajaran kontekstual ini adalah bahwa dalam pembelajaran baik itu berkaitan dengan pengetahuan ataupun keterampilan diperlukan model yang biasa ditiru oleh siswa. Permodelan ini dapat berkenaan dengan cara mengerjakan atau melakukan sesuatu. Dalam pendekatan ini guru bukannya satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, dapat pula model didatangkan dari luar kelas tergantung materi yang diperlukan permodelannya.
6)            Refleksi (reflection)
 Refleksi atau (reflection) merupakan cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang dilakukan di masa lalu. Siswa mengandalkan apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan demikian, refleksi ini merupakan respon terhadap apa yang baru saja diterima.
Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari proses. Artinya pengetahuan yang dimiliki siswa diperluas sedikit demi sedikit dalam hal ini, guru berkewajiban membantu siswa dengan menciptakan hubungan antara pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan baru, sehingga siswa merasakan manfaat pengetahuan yang baru saja diperoleh. Jadi, yang menjadi kunci dalam refleksi ini adalah bagaimana menciptakan agar pengetahuan yang baru itu dapat mengendap pada benak siswa.
7)             Penilaian yang sebenarnya (Authentic assessment)
Penilaian atau assessment yaitu proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar ini perlu diketahui oleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa telah mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru dapat segera mengambil langkah yang tepat untuk perkembangan belajar ini perlu diketahui oleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa teleh mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru dapat segera mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi kemacetan yang terjadi pada siswa. Untuk itu, assessment ini dilakukan sepanjang proses, bukan hanya pada akhir periode baik semester akhir, melainkan assessment ini dilakukan dan secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, penilaian tentang kemajuan belajar siswa dilakukan secara proses, bukan hanya dari hasil. Untuk itu penilaian tidak hanya oleh guru, tetapi dapat pula dilakukan teman siswa.  

3 komentar:

  1. Boleh minta daftar pustaka nya???

    BalasHapus
  2. Boleh, Emailnya apa? Bagian mana yang diperlukan
    Insya Allah nanti saya scankan.

    BalasHapus
  3. Boleh minta daftar pustaka nya?

    E- mail sya :
    deby_hermawan84@yahoo.co.id

    BalasHapus